Pemuda: Penentu Arah Bangsa, Agama, dan Peradaban - Pikiran Rakyat News

Breaking

Monday, February 16, 2026

Pemuda: Penentu Arah Bangsa, Agama, dan Peradaban



Penulis: Muhammad Ali Akbar, S.Pd.I., M.Pd.I.
(Penyuluh Agama Islam KUA Tapaktuan)

Aceh, Pikiranrakyatnews.my.id
Pemuda selalu menempati posisi strategis dalam perjalanan sejarah bangsa dan peradaban manusia. Mereka adalah kelompok yang memiliki energi, semangat perubahan, serta keberanian untuk melampaui batas-batas lama. Setiap fase kebangkitan umat dan kemajuan bangsa hampir selalu diawali oleh kesadaran dan gerakan generasi muda yang memiliki visi dan idealisme kuat.

Dalam perspektif keagamaan, pemuda bukan hanya dipandang sebagai penerus estafet kehidupan, tetapi juga sebagai penjaga nilai dan moralitas. Agama membutuhkan pemuda yang beriman, berilmu, dan berakhlak mulia agar ajarannya tetap hidup dan membumi di tengah masyarakat. Tanpa peran aktif pemuda, nilai-nilai agama akan kehilangan daya geraknya dan berisiko tergerus oleh perubahan zaman.

Namun, realitas hari ini menunjukkan bahwa pemuda dihadapkan pada tantangan yang semakin kompleks. Arus globalisasi, kemajuan teknologi, dan perubahan sosial yang cepat sering kali membawa dampak ganda. Di satu sisi membuka peluang kemajuan, tetapi di sisi lain berpotensi menjerumuskan pemuda ke dalam krisis identitas dan degradasi moral apabila tidak dibarengi dengan bimbingan yang tepat.

Oleh karena itu, pemuda tidak boleh dibiarkan berjalan sendiri dalam menghadapi derasnya perubahan zaman. Mereka harus dirangkul, dibina, dan diarahkan dengan penuh kebijaksanaan agar tetap berada di jalan yang benar. Kesalahan dan penyimpangan yang terjadi pada pemuda bukan alasan untuk menjauh, melainkan panggilan untuk menghadirkan pendampingan yang lebih serius dan berkelanjutan.

Kesadaran akan pentingnya peran pemuda harus menjadi perhatian bersama seluruh elemen masyarakat. Keluarga, lembaga pendidikan, tokoh agama, dan pemerintah memiliki tanggung jawab moral untuk memastikan pemuda tumbuh sebagai generasi yang beriman, berakhlak, dan bertanggung jawab. Dari sinilah arah bangsa, kekuatan agama, dan masa depan peradaban akan ditentukan.

1. Pemuda adalah Aset Bangsa, Negara, dan Agama


Pemuda merupakan fase kehidupan yang penuh energi, semangat, dan keberanian. Pada usia inilah seseorang memiliki kekuatan fisik, kejernihan akal, dan idealisme yang tinggi. Oleh sebab itu, pemuda menjadi aset paling berharga bagi bangsa, negara, dan agama. Masa depan suatu peradaban sangat ditentukan oleh kualitas generasi mudanya hari ini.


Dalam konteks keagamaan, pemuda memiliki posisi strategis karena mereka adalah pewaris nilai-nilai Islam. Jika pemuda tumbuh dengan iman yang kuat dan akhlak yang baik, maka agama akan tetap hidup dan berkembang secara bermartabat di tengah masyarakat.


Al-Qur’an mengabadikan keteladanan pemuda beriman:


“Sesungguhnya mereka adalah pemuda-pemuda yang beriman kepada Tuhan mereka, dan Kami tambahkan kepada mereka petunjuk.” (QS. Al-Kahfi: 13)


Ayat ini menegaskan bahwa iman yang tertanam sejak muda akan melahirkan keteguhan dan petunjuk hidup yang lurus.



2. Salah Arah Pemuda, Awal Kerusakan Moral


Pemuda yang kehilangan arah ibarat kapal tanpa kompas. Ketika nilai agama dan moral tidak lagi menjadi pegangan, maka berbagai bentuk penyimpangan mudah masuk. Kerusakan akhlak, pergaulan bebas, narkoba, kekerasan, dan hilangnya adab sosial sering kali berakar dari pemuda yang tidak mendapatkan bimbingan yang benar.


Kerusakan moral pemuda tidak hanya berdampak pada dirinya sendiri, tetapi menular ke lingkungan sosial. Ketika pemuda rusak, maka keluarga, masyarakat, bahkan bangsa akan ikut merasakan akibatnya. Inilah mengapa pembinaan pemuda bukan urusan sepele, melainkan persoalan strategis umat.


Allah SWT mengingatkan:


“Telah tampak kerusakan di darat dan di laut disebabkan karena perbuatan tangan manusia.” (QS. Ar-Rum*: 41)


Ayat ini menunjukkan bahwa kerusakan moral adalah hasil dari kelalaian manusia dalam menjaga nilai-nilai kebenaran, termasuk dalam mendidik generasi mudanya.



3. Pemuda Harus Dirangkul, Bukan Dijauhi


Kesalahan terbesar dalam menghadapi pemuda adalah menjauhi mereka saat berbuat salah. Padahal, pemuda yang keliru arah justru paling membutuhkan perhatian dan pendampingan. Menyalahkan tanpa membimbing hanya akan membuat pemuda semakin jauh dari nilai agama.


Merangkul pemuda berarti mendekati mereka dengan empati, mendengarkan kegelisahan mereka, dan memahami tantangan zaman yang mereka hadapi. Dakwah kepada pemuda harus bersifat persuasif, bukan represif; membangun, bukan menghakimi.


Allah SWT berfirman:


“Serulah (manusia) kepada jalan Tuhanmu dengan hikmah dan pelajaran yang baik.” (QS. An-Nahl: 125)


Pendekatan yang bijaksana akan membuka hati pemuda, sehingga nilai-nilai kebaikan dapat tertanam secara perlahan namun kuat.



4. Bimbingan Bijaksana Menjaga Pemuda di Jalan yang Benar


Pemuda membutuhkan bimbingan yang berkesinambungan, bukan sekadar nasihat sesaat. Bimbingan tersebut harus hadir melalui keteladanan orang tua, pendidik, tokoh agama, dan lingkungan masyarakat. Tanpa contoh nyata, nasihat akan kehilangan makna.


Bimbingan yang bijaksana akan membantu pemuda memahami jati dirinya, tujuan hidupnya, serta tanggung jawabnya sebagai hamba Allah dan anggota masyarakat. Dengan pembinaan yang tepat, pemuda akan mampu menghadapi tantangan zaman tanpa kehilangan nilai iman dan akhlak.


Allah SWT berpesan:


“Wahai orang-orang yang beriman! Peliharalah dirimu dan keluargamu dari api neraka.” (QS. At-Tahrim: 6)


Ayat ini menegaskan bahwa membina pemuda adalah bagian dari tanggung jawab keimanan yang tidak boleh diabaikan.



5. Di Tangan Pemuda Hidup dan Matinya Suatu Daerah dan Negara


Kemajuan suatu daerah dan negara sangat ditentukan oleh kualitas pemudanya. Pemuda yang berilmu, beriman, dan berakhlak akan menjadi agen perubahan yang membawa kemajuan. Sebaliknya, pemuda yang apatis dan rusak moralnya akan menyeret bangsa menuju kemunduran.


Pemuda adalah motor penggerak perubahan sosial. Mereka memiliki keberanian untuk memulai, kekuatan untuk bergerak, dan semangat untuk memperbaiki keadaan. Oleh karena itu, investasi terbesar bangsa seharusnya diarahkan pada pembinaan pemuda.


Allah SWT berfirman:


“Sesungguhnya Allah tidak akan mengubah keadaan suatu kaum sampai mereka mengubah keadaan yang ada pada diri mereka sendiri.” (QS. *Ar-Ra‘d*: 11)


Perubahan besar selalu bermula dari perubahan individu, dan pemuda berada di barisan terdepan proses tersebut.



6. Pesan Sejarah: Kekuatan Pemuda Mengguncang Dunia


Sejarah bangsa Indonesia membuktikan bahwa pemuda adalah kekuatan perubahan. Semangat ini tercermin dalam ungkapan terkenal Presiden pertama Indonesia, Soekarno:


“Beri aku 10 pemuda, niscaya akan kuguncangkan dunia.”


Ungkapan ini menegaskan keyakinan bahwa pemuda yang memiliki visi, keberanian, dan idealisme mampu mengubah arah sejarah. Kemerdekaan Indonesia pun tidak lepas dari peran besar pemuda yang rela berkorban demi masa depan bangsa.


Pesan ini relevan hingga hari ini: pemuda bukan sekadar penerus, tetapi penentu. Jika pemuda dibina dengan baik, maka bangsa akan berdiri kokoh. Namun jika pemuda diabaikan, maka kehancuran hanya menunggu waktu.


Penutup

Pemuda adalah amanah besar dari Allah SWT. Menjaga pemuda berarti menjaga masa depan agama, bangsa, dan negara. Merangkul mereka dengan kasih sayang, membimbing dengan hikmah, dan menanamkan iman serta akhlak mulia adalah investasi peradaban yang paling bernilai.


Pemuda hari ini adalah pemimpin esok hari.Maka, baik atau buruknya masa depan, sangat bergantung pada bagaimana kita membina pemuda saat ini.

No comments:

Post a Comment

SELAMAT DATANG DI SEMOGA ANDA PUAS