Musyawarah Nasional ke XI MUI Peran Ulama Semakin Diteguhkan Dalam Kehidupan Keumatan dan Kebangsaan - Pikiran Rakyat News

Breaking

Tuesday, November 25, 2025

Musyawarah Nasional ke XI MUI Peran Ulama Semakin Diteguhkan Dalam Kehidupan Keumatan dan Kebangsaan

Mantan Rektor Universitas Islam Negeri (UIN) Imam Bonjol, Prof. Dr. Asasriwarni yang juga Ketua Dewan Pertimbangan MUI Sumbar dalam Munas XI di Jakarta

Jakarta, Singgalang

Musyawarah Nasional ke XI MUI  Sudah berakhir 20-23 November 2025 di Jakarta menjadi momentum penting utk meneguhkan kembali peran ulama dalam kehidupan keumatan dan kebangsaan.


Hal itu dikatakan Mantan Rektor Universitas Islam Negeri (UIN) Imam Bonjol, Prof. Dr. Asasriwarni yang juga Ketua Dewan Pertimbangan MUI Sumbar kepada wartawan baru-baru ini.


Disebutkannya, di tengah perubahan sosial yg cepat tantangan global yg kompleks serta perkembangan teknologi yg tak terbendung, bangsa ini membutuhkan bimbingan moral  dan panduan nilai yg kokoh.


Disinilah ulama harus kembali tampil sebagai penuntun arah,bukan sekedar pengamat zaman.Ulama dalam pandangan Islam bukan hanya pewaris Ilmu tetapi juga waratsar al-anbiya pewaris tugas para nabi.


Mereka memikul amanah besar menebarkan ilmu menjaga aqidah menuntun umat,dan memperjuangkan kemaslahatan.Sejarah bangsa Indonesia telah mencatat dengan tinta emas bagaimana ulama berada digarda depan perjuangan kemerdekaan dan pembangunan nasional.


Maka dimasa Juni,ketika bangsa menghadapi tantangan baru berupa kritis moral,ketimpangan sosial dan disrupsi teknologi peran ulama kembali dituntut tampil sebagai pemandu jalan menuju kebaikan bersama. Sejatinya adalah panggilan untuk memperkuat fondasi peradaban nasional.


Kemandirian bukan sekedar istilah ekonomi tetapi juga sikap mental dan spritual bangsa yg teguh pada nilai berdikari dalam usaha dan tidak tergantung pada pihak luar dalam menentukan masa depannya.Ketahanan pangan,kedaulatan energi,dan penguatan industri halal adalah wujud konkret dari cita-cita kemandirian itu.


MUI memandang bahwa membangun bangsa bukan hanya tanggung jawab pemerintah,melainkan juga tanggung jawab moral seluruh umat, terutama para ulama.Mereka harus hadir memberikan bimbingan,mendorong etos kerja,dan menanamkan kesadaran bahwa kemandirian adelah bahagian dari ibadah,sebagai,sebagai manifestasi dari amanah kekhalifahan manusia di bumi Perkembangan kecerdasan buatan(AI) kini membawa manusia ke era baru yg penuh kemudahan sekaligus kerentanan.


Ditengah euforia kemajuan teknologi,nilai kemanusiaan sering terpinggirkan.Disinilah peran ulama menjadi sangat penting untuk mengawal etika agar tidak menimbulkan kerusakan moral dan sosial.Ulama harus hadir bukan untuk menolak kemajuan tetapi memastikan bahwa teknologi berpihak pada kemaslahatan pemanfaatan AI dan digitalisasi ekonomi harus dituntun dg nilai keadilan tanggung jawab dan kemanusiaan.Ulamamemiliki tugas strategis untuk memberi panduan etik dan hukum syariah yg menjaga kemajuan tetap dalam koridor maslahat


Indonesia sedang bergerak menjadi pusat Industri Halal Dunia.


Ini bukan sekedar peluang ekonomi melainkan juga tantangan moral.

Produk halal harus dipahami bukan hanya sertifikasi tetapi juga dari Sisi spritual bagaimana halal menjadi gaya hidup yg mencerminkan kejujuran kebersihan dan keberkahan Ulama berperan menjaga integritas sistim halal agar industri ini tumbuh sebagai pilar ekonomi nasional berkah dan berkeadilan Tantangan kebangsaan hari ini tidak hanya bersifat material tetapi juga sosial dan moral.


ujaran kebencian saat ini menjadi ancaman serius bagi kebutuhan umat dan bangsa. Oleh sebab itu  Ulama harus menegaskan  kembali pentingnya tiga filar ukhwah  Ukhwah islamiyah,ukhwah basyariyah dan ukhwah Wathaniyah. Ketiga ukhwah ini adalah basis persaudaraan Islam yg menempatkan persaudaraan sebagai nilai tertinggi.


Ulama harus terus menerus  menjadi ce perekat bangsa Dalam hubungan ukhwah inilah Indonesia dapat kokoh sebagai bangsa yg damai dan bermartabat.PR-06


No comments:

Post a Comment

SELAMAT DATANG DI SEMOGA ANDA PUAS